Tampilkan postingan dengan label bedugmendunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bedugmendunia. Tampilkan semua postingan

Bedug Buatan Grabag Magelang yang Mendunia

Bedug Buatan Grabag Magelang yang Mendunia


Bedug buatan pengrajin di Kecamatan Grabag, Magelang masih menjadi salah satu yang dilirik masjid-masjid di Indonesia. Bahkan, bedug tersebut sudah merambah sejumlah negara.

Pemilik sentra kerajinan bedug "Barokah Agung", Khuzaemadi, mengatakan, meski mengalami penurunan penjualan, namun bedug buatannya masih diminati.

"Ada langganan orang Medan yang pasti ambil bedug dari sini. Ada juga yang dari Malaysia, Singapura, sampai Italia," kata Khuzaemadi, di kediamannya di Dusun Bleder, Desa Ngasinan, Kecamatan Grabag, Magelang, Selasa (30/5/2017).

Bedug Buatan Grabag Magelang yang Mendunia




Dia berkisah, usaha pembuatan bedug yang kini ditekuninya merupakan suatu hal yang tak diduga. Bapak lima anak itu mengaku tidak memiliki kemampuan maupun ketrampilan membuat bedug sebelumnya.

Dirinya terjun ke usaha pembuatan bedug sekitar tahun 1991 sesaat setelah dia dan keluarganya ditimpa kerugian dari bisnis jual beli sapi. Seluruh harta benda milik keluarga Khuzaemadi habis, yang tersisa hanya rumah satu-satunya yang kini ditempati.

"Tiba-tiba, ada tetangga warga Dusun Canggalan, Desa Ngasinan, Kecamatan Grabag yang meminta tolong untuk dibuatkan bedug dari kayu canggal (pokok kayu). Kayu itu gabungan pohon kanthil dan kenanga, hanya ada satu itu, tidak ada lainnya," kenang Khuzaemadi.

Dengan penuh keyakinan, dia menyanggupi membuat bedug. Setelah jadi, bedug itu dihargainya Rp 180 ribu. Kini, Khuzaemadi memiliki niatan untuk membeli bedug itu kembali dengan harga berkali-kali lipat, yakni Rp 10 juta.

"Tapi tidak dibolehkan sama warga sana, karena bedug itu hanya satu-satunya, kayunya juga tidak ada duanya," ujarnya.

Berawal dari pengalaman membuat bedug tersebut, Khuzaemadi terus menekuni usahanya itu. Kini, dia memilih menggunakan bahan baku kayu sengon laut merah. Bahan baku tersebut, kata dia, tidak ada di Magelang sehingga dia harus membeli dari luar daerah. Salah satunya dari Yogyakarta. Sedangkan kulit yang digunakan berupa kulit sapi dari lokal Magelang.

"Bahan baku bedug khusus menggunakan kayu sengon laut merah karena memiliki kualitas yang lebih bagus dibanding jati dan kayu munggur. Selain itu, kayu ini juga memiliki keistimewaan dapat mencapai ukuran atau diameter belasan meter dan lebih lunak," ungkapnya.

Dalam pembuatannya, satu bedug mampu mencapai waktu setengah hingga satu bulan. Tergantung dari ukuran bedug, semakin kecil ukurannya maka semakin cepat waktu penyelesaian. 

Bedug Buatan Grabag Magelang yang Mendunia




Namun demikian, waktu pengeringan satu kayu bahan baku bedug lebih lama dari waktu pembuatan. Paling tidak membutuhan waktu 5-8 bulan agar kayu benar-benar kering dan mampu mengeluarkan warna suara yang bening, lembut dan merdu. 

"Adapun untuk ukuran bedug kita buat bervariasi, mulai yang paling kecil berukuran sekitar 50 centimeter, kemudian ukuran paling besar pernah sampai 2 meter," urainya.

Harga yang dipatok juga berdasarkan ukuran dari bedug. Yakni berkisar antara Rp 12 juta hingga termahal Rp 70 juta. Harga tersebut sudah termasuk satu paket dengan satu kentongan dan dudukan bedug. 

Pembeli tidak perlu khawatir dengan kualitas bedug buatan Khuzaemadi, karena dia memberikan garansi selama 15 tahun. Untuk 5 tahun pertama, garansi pecah dan teter (hewan pengerat kayu), garansi selanjutnya untuk ketahanan bedug.

Dengan semakin banyaknya perajin bedug, Khuzaemadi mengaku merasakan dampaknya berupa penurunan pembeli. Meski demikian, dia tetap optimis bedug buatannya tetap diminati. 


Sumber : https://news.detik.com