Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Media Sosial Banyak Bikin Remaja Perempuan 'Galau' Berat





Jakarta, Indonesia - Selama satu dekade terakhir, platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram telah mencuri perhatian banyak orang. Laman media sosial ini kian populer dan membuat banyak orang sangat bergantung pada ponsel pintar.

Namun, di balik popularitasnya yang kian melonjak, fiksasi media sosial tanpa disadari justru menimbulkan korban, khususnya kaum hawa.

Melansir The Independent, jajak pendapat teranyar yang dilakukan Girlguiding, organisasi sosial di Inggris yang beranggotakan perempuan menyebut, sebagian besar remaja perempuan merasa hidupnya tidak bahagia akibat serbuan media sosial.

Jajak pendapat itu mendapatkan hanya seperempat remaja perempuan berusia 7-21 tahun yang mengaku bahagia. Angka ini menurun drastis dari 2009 lalu sebanyak 41 persen.

Sebanyak 59 persen remaja perempuan berusia 7-21 tahun mengatakan bahwa media sosial adalah salah satu penyebab utama stres yang dirasakannya. Sementara 69 persen di antaranya menyalahkan ujian yang sulit atas stres yang dideritanya.

Organisasi tersebut melakukan jajak pendapat terhadap 1.903 remaja perempuan berusia 7-21 tahun selama Maret hingga Mei 2018. Hasil ini dibandingkan dengan penemuan jajak pendapat sebelumnya pada 2009 lalu.

Peneliti utama dari Girlguiding, Amanda Medler, mengatakan bahwa perlu adanya tindakan yang lebih efektif untuk memperhatikan kesehatan mental remaja perempuan.

"Pesannya jelas tentang keseriusan masalah yang dihadapi perempuan di zaman kiwari, serta dampak negatifnya terhadap kehidupan mereka," ujar Medler.

Belakangan, berbagai penelitian soal kesehatan mental remaja kerap dilakukan oleh sejumlah organisasi. Rata-rata dari penelitian menyebutkan adanya krisis kesehatan mental pada remaja, baik perempuan atau laki-laki.

Teranyar, sebuah penelitian di Inggris menunjukkan adanya peningkatan penggunaan obat painkiller atau penghilang rasa sakit dan antidepresan pada remaja. Hasil penelitian itu menjadi bukti baru yang lain dari krisis kesehatan mental pada remaja di zaman kiwari.