Baca Berita Ini!! Bandara Internasional Pertama Yang Dimiliki Indonesia Ternyata Bukan Bandara Soekarno-Hatta




Seputarmantan.com - Apa Ada yang tahu bandara internasional pertama yang ada dimiliki Indonesia?
Bandara merupakan suatu gerbang bagi para wisatawan untuk dapat masuk ke dalam suatu wilayah melalui perjalanan udara ibarat stasiun buat kereta. Dan Bandara pertama yang dimiliki Indonesia untuk penerbangan internasional adalah Bandara Kemayoran.

Yups, Jauh sebelum didirikan bandar udara, daerah Kemayoran merupakan sebuah tanah yang dimiliki oleh Komandan VOC, Isaac de l'Ostal de Saint-Martin (1629–1696). Sekitar akhir abad ke-17, Issac memiliki tanah di Pulau Jawa yang meliputi daerah Kemayoran, Ancol, Krukut, dan Cinere.

Nama "Mayoran" pertama muncul pada tahun 1816 di dalam iklan Java Government Gazette sebagai "tanah yang terletak di dekat Weltevreden, Batavia". Setelah itu, daerah tersebut dikenal dengan sebutan "Kemayoran". Hingga awal abad ke-20, daerah Kemayoran masih berupa rawa, areal persawahan, serta pemukiman penduduk.

Kemudian pada tahun 1934, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah Bandar udara di daerah tersebut 
mulai beroperasi pada tanggal 6 Juli 1940 dengan kode bandara JKT.
Walau begitu peresmiannya baru dilakukan pada tanggal 8 Juli 1940.


Pesawat pertama yang melakukan pendaratan di bandara ini adalah pesawat jenis DC-3 Dakota yang melakukan penerbangan dari Tjililitan atau Halim Perdanakusuma untuk saat ini.
DC-3 Dakota sendiri adalah pesawat yang dimiliki oleh maskapai penerbangan Hindia Belanda
yakni KNILM (Koningkelije Nederlands Indische Luchtvaart Maatschapij).
Pesawat ini juga merupakan pesawat pertama yang melakukan penerbangan dari Bandara Kemayoran ke Australia.

Bandara Kemayoran merupakan bandara pertama yang berfungsi sebagai tempat diselenggarakannya kegiatan kedirgantaraan. Salah satu kegiatan kedirgantaraan atau airshow pertama diselenggarakan pada tanggal 31 Agustus 1940. Penyelenggaraan Airshow ini untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Kerajaan Belanda yakni Ratu Wilhelmina yang ke-80.

Berbagai jenis pesawat milik KNILM turut serta meramaikan airshow ini. Selain itu setelah Indonesia merdeka, yakni pada tahun 1984, Indonesian Airshow diselenggarakan untuk pertama kali di bandara ini.
Meski pada saat itu bandara ini sudah tidak aktif lagi. Bandara Kemayoran adalah saksi bisu sejarah Indonesia dari masa pemerintahan Hindia Belanda, Jepang hingga masa Orde Lama dan Orde Baru.

Bandara ini mulai berhenti beroperasi pada tanggal 1 Januari 1983 dan secara resmi benar-benar non aktif pada tanggal 1 Juni 1984. Sementara Bandara Soekarno Hatta sendiri diresmikan pada tanggal 1 Januari 1984 untuk menggantikan Bandara Kemayoran.

Setelah dihentikan kegiatan operasionalnya, Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No 31 tahun 1985,
untuk menghindarkan perebutan kewenangan antar instansi terhadap areal bekas bandar udara itu, berdasarkan peraturan itu, kekayaan negara yang merupakan sebagian modal Perum Angkasa Pura I ditarik kembali sebagai kekayaan negara.

Untuk pemanfaatan lebih lanjut, maka dibentuklah Badan Pengelola Komplek Kemayoran (BPKK) berdasarkan Keputusan Presiden RI no. 53 Tahun 1985 jo Keppres No. 73 tahun 1999. Sebagai pelaksana,
diunjuklah DP3KK yang melaksanakan pembangunan dengan memanfaatkan pihak swasta di Indonesia.
Pembangunan dimulai pada 1990-an dengan rumah susun sederhana pada tahun 1988 di bekas Apron bandar udara dengan nama jalan-jalan yang mengambil nama pesawat seperti Jl. Dakota. Kemudian pembangunan kondominium dan proyek kotabaru Kemayoran yang sempat menuai masalah.

Baca Juga : Sungguh Mengharukan Bandara Internasional Pertama Yang Dimiliki Indonesia Ternyata Pernah Masuk Komik Tintin

Rencana lain, kawasan ini adalah dijadikan sebagai kawasan hutan wisata yang selanjutnya akan dijadikan sebagai suaka margasatwa atau bird sanctuary bagi burung-burung di kawasan ini, namun karena banyaknya proyek konstruksi, maka kawasan bird sanctuary ditempatkan di Pulau Rambut, salah satu dari gugusan Kepulauan Seribu di Teluk Jakarta. Suaka Margasatwa ini juga akan memelihara menara pemandangan serta bekas tower bandar udara yang akan dipertahankan sebagai kawasan situs bersejarah bahwa dahulunya tempat ini adalah Bandar Udara Internasional.

Sementara dua landasan pacu tetap dipertahankan sebagai jalan utama dengan median (pembatas jalan) yang tidak permanen untuk sewaktu waktu digunakan sebagai landasan pacu guna kepentingan militer karena struktur landasannya yang menggunakan konstruksi standar landas pacu bandar udara internasional yang kuat. Pada bekas landas pacu utara-selatan diberi nama Jalan Benyamin Sueb, nama seorang tokoh dan artis serbabisa kelahiran Jakarta yang merupakan warga asli Kemayoran, oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta.